Questions? Feedback? powered by Olark live chat software
Headlines News :
Home » , , , , , » Kurikulum 2013: Refleksi Mundur 10 Tahun Kebelakang

Kurikulum 2013: Refleksi Mundur 10 Tahun Kebelakang

Written By Ahmad Fadli on Tuesday, December 11, 2012 | 1:31 AM

Beberapa hari belakangan ini dunia pendidikan ramai memperbincangkan akan perubahan Kurikulum Pendidikan dengan Kurikulum 2013. Mereka para pengambil keputusan dan para penyusun mengatakan bahwa perubahan kurikulum ini sangat diperlukan demi masa depan Indonesia yang dinilai tertinggal dibanding negara lain.
Beberapa perubahan dilakukan dan yang sangat mencolok adalah pengurangan jam pelajaran yang selama ini dinilai bahwa mata pelajaran di Indonesia dinilai terlalu banyak sehingga siswa tidak bisa fokus terhadap  materi. Namun dibalik itu pengurangan jam diikuti oleh penambahan waktu belajarnya.
Ada beberapa pelajaran yang mengalami perubahan jam baik ditingkat SD maupun tingkat menengah. Yang menjadi perhatian saya adalah perubahan jam pada pelajaran berikut:


1. Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama.

Baik untuk tingkat dasar maupun SMP tampak ada perubahan. Mungkin ini dialasankan dengan pendidikan KArakter yang mau ditonjolkan. Namun kesalahan yang terjadi adalah “Kenapa pemerintah lebih menonjolkan pendidikan Kewarganegaraan dibanding pendidikan Agama” Padahal karakter yang diharapkan itu akan lebih efektif jika didasari oleh nilai AGAMA bukan kewarganegaraan atau kebangsaan. Semestinya dibalik, jumlah pelajaran agama yang digandakan bukan Pendidikan kewarganegaraan.
Kalau ini yang terjadi maka nanti akan melahirkan generasi yang tambah jauh dari Agama dan memiliki nilai kewargrganegaraan yang tinggi. (saya tidak tahu apa arti nilainya nanti ……)
Apa arti sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa”
Bukankah yang diutamakan adalah nilai agama??? Nilai Ketuhanan ….
Bisa bisa nanti kita akan menjadi bangsa yang maju teknologi, kuat kewarganegaraannya tetapi minus agamanya. Apalagi nilai-nilai keagamaannya.
Didalam pendidikan agama, apapun agamanya pasti ada nilai nilai kenegaraan, cinta bangsa, cinta tanah air, bela negara dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kenegaraa.
Jadi sangat salah kalau yang digandakan itu adalah pendidikan kewarganegaraan”

2. Menghilangkan Mata Pelajaran TIK.
Ini bukan mengejar ketertinggalan kita tapi merupakan upaya memundurkan diri sepuluh tahun kebelakang.
Beberapa waktu lalu saya ikut pelatihan Pemanfaatan ICT utnuk Pembelajaran matematika yang dihadiri oleh 60 peserta dari seluruh Indonesia. Setelah saya perhatikan ternyata saya termasuk yang paling senior alias tertua (mungkin…) karena yang lain saya lihat masih muda-muda. Kok yang senior malah nggak lulus seleksi ya ???? Setelah saya pikir pikir ternyata saya termasuk salah satu yang beruntung dan ini saya sampaikan dalam obrolan santai dengan para peserta lain.
“Kalau angkatan saya jarang yang lulus itu karena kami tidak bisa ICT dan rasanya masih wajar karena di jaman kami kuliah dulu, kami belum punya komputer. Tapi kalau dijaman kalian sekarang ini, kalian tidak bisa komputer itu keterlaluan karena kalian semua sudah dibesarkan dijamannya komputer.”
Dan ini akan terulang lagi jika di kurikulum 2013 pelajaran TIK dihapuskan …..!

Masalahnya akan berbeda walaupun di cantumkan bahwa seluruh mata pelajaran harus berintegrasi dengan ICT. Jika ini yang dicanangkan maka yang bisa ICT adalah gurunya (itupun mungkin tapi bagi mereka yang sudah terlanjur tua untuk baru memulai belajar ICT ????)
Dan kalaupun ini bisa diatasi, yang jadi permasalahan adalah para peserta didik, mereka akan tetap buta ICT karena mereka hanya menjadi objek bukan sabjek dalam penggunaan ICT.
Akibatnya muncul lagi generasi baru angkatan 2015 yang gagap teknologi …
Mungkin bukan gagap lagi tapi bisa-bisa buta karena mengoperasikan microsoft office saja mungkin tidak bisa …
Jumlah jam pelajaran Pendidikan Agama dan PKn sejak dari tingkat SD sampai menengah itu harus di balik, artinya jam pelajaran Agama yang lebih besar daripada PKn

Bahasa inggris di SD bisa dipakai atau ditambahkan dan jangan dihilangkan, tinggal metode pengajarannya yang diganti dengan metode yang lebih ringan, anak samapi usia 7 tahun bisa mempelajari lima bahasa yang berbeda sekaligus tanpa akan memberikan beban kerja otak yang berlebihan pada si anak.
Catatan: Sang guru harus bisa bahasa Inggris lancar untuk bisa mengajar anak dengan cara praktek, jadi hinari pengajaran teori atau grammar dll, utamakan praktek. Bahasa adalah keterampilan bukan skill

TIK harus tetap dipertahankan sejak dini, pengenalan komputer bisa diberikan sejak SD dalam bentuk game game interaktif yang selanjutnya dilanjutkan dengan pengenalan bahasa-bahasa program sederhana seperti belajar mengetik cepat dst.
Kalau yang ini tidak dijalankan maka saya yakin tujuan yang akan dicapai jadi melenceng, bukannya perbaiakn yang dicapai tapi malah sebaliknya, AKAN TERLAHIR GENERASI BARU YANG JAUH DARI AGAMA, GAGAP TEKNOLOGI WALAUPUN RASA KEBANGSAANNYA TINGGI !!

Sumber
Share this article :

1 comment:

  1. mantap gang, kita seharusnya bisa lebih baik dengan tetap mendukung pelajaran Agama, TIK, dan Bahasa Inggris (di SD)...Itu smua modal menjalani dunia global, bukan malah dengan menghindarinya....sangat di sayangkan..

    ReplyDelete

 
Support : ilunibio-unp | ilunibio-unp | Iluni Biologi UNP
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. ILUNI BIOLOGI UNP - All Rights Reserved
Template Design by Iluni Bio UNP Published by ilunibio-unp